SEKILAS INFO
  • 5 bulan yang lalu / Infak Keluarga Besar SMK Muh. Bligo 5.000.000
  • 5 bulan yang lalu / Infak SMK Muhammadiyah Karanganyar 693.000
  • 5 bulan yang lalu / Infak Peduli Banjir Jabodetabek Sutiknyo 50.000
WAKTU :

TUHAN YANG TERPOJOK

Terbit 6 Februari 2020 | Oleh : Muhammad Dwi Fakhrudin | Kategori : Inspirasi
TUHAN YANG TERPOJOK

WAKTU kuliah di Bandung, aku pernah terdesak oleh masalah perut lapar karena kiriman belum datang.
Kiriman dari orang tua seharusnya cukup, tapi karena manajemen yang buruk, akhirnya ludes sebelum waktunya.

Subuh itu aku sholat sangat khusuk, padahal biasanya kesiangan atau malah bolong. Saat itu aku berdoa dengan cara menagih. Aku fikir kalau Tuhan itu Maha Besar, mosok nggak sanggup membayar tagihan yang remeh ini. Gengsi dong…. Dan yang aku sebut menagih adalah mengungkit-ungkit peristiwa belasan tahun silam.
“Tuhan, Engkau pasti ingat waktu ibuku masih mengajar di SD, ibuku mendapati seorang muridnya yang sering pingsan karena perutnya kosong. Sejak itu ibuku menyuruh anak itu tiap pagi sarapan di rumahku sebelum ke sekolah. Kalau itu kebaikan, sekarang lah saat yang paling tepat buat Engkau untuk membalasnya. Kalau Kau ingin aku lebih beriman, sekarang lah kesempatan yang terbaik.”

Aku merasa Tuhan sudah terpojok dengan doaku itu, maka siangnya aku pun melangkah tenang ke warteg terdekat untuk menyambut balasan Tuhan. Aku pesan nasi satu porsi lebih disiram kuah gratisan dan lauknya kripik tempe.

Semua berjalan sangat biasa. Tak ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu yang dramatis seperti dalam sinetron TV. Keringat dingin mulai menetes…. Kulihat wajah-wajah di dekatku, semuanya sedang lahap. Tak ada wajah malaikat yang diutus Tuhan membayar tagihanku. Yang kutangkap adalah wajah seorang tentara yang matanya langsung galak begitu dan tak sengaja mataku menabrak matanya. Sepertinya pangkatnya rendahan makanya suka pamer kekuatan. Dia sampai mendekatkan duduknya ke arahku. Dia menanyaiku dengan suara yang dipaksakan berat dan menakutkan.

“Heh…! Orang mana kamu?!” gertaknya.

Untuk menyebut kota asalku -Pemalang, pasti banyak yang tidak tahu. Pemalang itu kota kecil yang sangat biasa dan tak punya apa-apa untuk dikenal. Maka kujawab saja, “Jawa Tengah.”

“Jawa Tengah? Kota mana?” kejarnya lagi.

“Kabupaten Pemalang,” jawabku gemetar. “Kecamatan?” busyet dia masih ngejar lagi.
“Kecamatan Petarukan.” jawabku tambah bingung.

“Desanya mana?” tanyanya lagi lebih meneror.
“Desa Serang.” jawabku pasrah.

Mendengar nama desaku, dia menatap mataku menyelidik. Lalu matanya berpindah melihat ke piringku.

Sehembusan nafas ia bangkit meninggalkanku. Huff… aku lega tak terjadi apa-apa. Aku tak berani melirik-lirik dia lagi. Dalam hati aku ngedumel, “Tuhan, kalau tak mau ngutus malaikat, jangan ngutus setan-lah. Biasa aja, dong….”

Braaakk…!!!
Asem, tentara itu lagi duduk di sebelahku. Tapi okelah, wajahnya mulai melunak.

“Hus. Kowe Serang-e ngendi? Anakke sapa?” tanya dia dengan suara yang kontras dengan sebelumnya. Lembut dan nyeduluri, bahkan kini dia ngomong Jawa ngapak semedok-medoknya.

Kawan, kalau kau sebatang kara di rantau, maka ketemu orang yang sebahasa denganmu itu rasanya kayak lebaran.
Aku seperti pulang dan mendengar tetanggaku sedang berisik sambil cari kutu. Aku seperti terdampar ke suasana pagi di-soundtrack-i penyiar radio dangdut yang medok. Aku bahkan seperti mencium bau pesing tanah bekas anak-anak kampungku kencing.

Dan suara “Brakk” tadi adalah suara mangkuk berisi opor ayam yang diletakkan agak tergesa di atas meja. Mangkuk itu kini bergeser ke arahku begitu aku menyebut nama orang tuaku.

“Nih…, dimakan. Ora usah mbayar.”

Ha ha ha ha haaaa. Aku seperti mendengar malaikat ketawa-tawa. “Baru dikasih laper dikit aja udah berani nagih Tuhan, berani memojokkan Tuhan. Rasaiiin lo…!”

Tentara itu lalu memperkenalkan siapa dirinya.
“Aku murid ibumu.” Matanya berkaca-kaca menerawang jauh menghindari tatapan langsung.
“Ibumu galak. Tapi kalau nggak galak, mungkin banyak yang gak lulus, termasuk aku. Yang khas dari ibumu, sebelum mulai pelajaran selalu bertanya ke murid-muridnya, siapa yang belum makan?”

“Aku salah satu murid yang selalu kelaparan kalau ke sekolah, untung ada ibumu.”
Dia tak kuat juga akhirnya menyeka matanya.

“Warteg ini punyaku. Usaha sampingan kecil-kecilan. Kalau kamu laper makanlah di sini. Tidak usah sungkan. Anggaplah aku kepanjangan tangan ibumu.”

Angin Bandung yang dingin seketika menghangat. Kurasakan kasih sayang ibuku menembus melampaui ratusan kilometer, Pemalang-Bandung.
Menyuapi anaknya yang sedang lapar.

Sejak itu kami langsung dekat. Seperti saudara lama yang baru saling menemukan.
Dia, seterusnya menjadi pelindungku selama di Bandung.

Dan Tuhan…? Ternyata gampang sekali terpojok oleh kebaikan yang dilakukan makhluknya.
Tak tega untuk tidak menolong siapa pun yang dalam dirinya bersemayam kebaikan. Satu kebaikan dibalas seribu kebaikan. Seperti hari itu dan seterusnya, aku memanen kebaikan yang pernah ibu tanam belasan tahun silam, meski hanya sekedar memberi makan.

Aku teringat akan firman Tuhan dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 261 :
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT,  (ia) bagaikan (menebar) sebutir benih (sebutir benih itu) menumbuhkan tujuh tangkai, dan dalam tiap-tiap tangkai tumbuh 100 butir.”

Vansophi.

SebelumnyaTHE ART OF GIVING SesudahnyaAHMAD BIN MISKIN dan NAFSU TERSEMBUNYI

Tausiyah Lainnya

Hubungi kami
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu ?
Powered by